Malaikat Penabur Dosa

Candice-Ghai-Twin-Sisters-Photography-Haley-Kenefick-Alex-Hooper-snake-Austin-Retile-Service-Adam-Eve
Ilustrasi: http://www.darkbeautymag.com

Binar cahaya pagi menggurat kelam. Aku lepas dari relung langit gelap, dari serambi malam yang pekat dengan cahaya syahdunya. Aku berdiri nikmati butir-butir embun yang berjatuhan, dan tetes demi tetesnya jatuh di bibirku.

Efek kelam memang mendamaikan hati, melantunkan syair yang syahdu untuk didendangkan dengan melodi angin surga. Namun terlalu lama di balik gelap semakin menjenuhkan. Pikiran juga ingin dimanjakan dengan euforia keramaian yang hangat.

Keadaan surga yang sepi membuatku jenuh. Aku merindukan tugas dari Tuhan untuk turun ke bumi, menikmati kebiasaan hidup orang bumi, yang dengan kebodohannya membuatku geli. Aku ingin mengintip dan mendengar suara mezzo soprano yang dibawakan Catharina Leimena, atau menonton anak-anak sanggar yang meniru gaya komponis Beethoven. Sejak dua tahun terakhir aku merindukannya.

Tuhan tampaknya sedikit jarang mengirim aku ke bumi untuk menunaikan tugas, semenjak aku telat kembali ke surga karena menyaksikan final America’s Got Talent. Padahal hatiku perlu diobati dengan keramaian bumi. Aku baru sekali saja menginjak bumi, sehingga secara spesifik tentang bumi tidak kuketahui.

Di surga ke empat ini, aku tidak sendiri. Aku ditemani Rhea, bidadari perawan tanpa sentuhan tangan Yesus layaknya Maria Magdalena. Namun anehnya, psikologis kami berbeda. Jika aku mencintai keramaian, maka Rhea membenci keramaian, apalagi keramaian bumi.

Rhea sangat tromatis menginjak bumi, semenjak diberi tugas dulu untuk memantau perang Sparta dan Athena. Darah berceceran di mana-mana, menyebabkan rasa trauma yang hebat pada pikirannya.

Di balik tirai istana kayu jati, aku melihat Rhea berlari ke arah rumahku. Mungkin Ia diganggu ular, tidak ingin seperti kisah Adam dan Eva dulu. Selendang tipisnya dimainkan angin surga, perlahan bagian dadanya tak ditutupi sehelai benang penyekat. Rambutnya yang bergelombang layaknya hujan yang tertiup angin tenggara melambai-lambai.

Ia berhenti tepat di depan mataku. Suara nafasnya menggebu. Berdiri dengan tubuh hanya ditutupi selendang sutra yang tipis, dan hanya menutup bagian dada kirinya. Rambut pirangnya tampak berantakan setelah dipermainkan angin, namun bibir merah jambunya tetap memancarkan pesona.

“Ada pesan dari Tuhan untukmu!!” ujarnya.

Mendengar kabar itu, sontak membuat hatiku kegirangan. Akhirnya Tuhan mendengar harapanku. Aku dengan girangnya bertanya padanya: “Benarkah? tugas apa yang diinginkan Tuhan untukku?”

Kerinduan akan keramaian bumi sebentar lagi terpenuhi. Aku akan menikmati keramaian bumi, dan humor manusia-manusia bumi yang menggelikan.

“Tuhan menyuruhmu turun ke bumi untuk memantau kelakuan manusia bumi, karena sebentar lagi akan terjadi peristiwa Armagedon!” jawabnya.

Tanpa ba-bi-bu, aku langsung saja bersiap menunaikan tugas ini. Aku mengajak Rhea turun bersama. Namun dugaanku tepat, Rhea menolak tawaranku. Akhirnya, aku memutuskan untuk berangkat sendiri ke bumi, tidak lupa aku pamitan ke Rhea untuk sebentar saja.

***

Aku telah keluar dari pintu surga, dan meluncur secepat cahaya ke bumi. Walau sempat terjadi turbulensi, namun dapat kuatasi dengan cerdik. Aku sudah tidak sabaran menikmati pemandangan bumi, bertemu orang Indian yang sejarah penamaannya merupakan monumen kegoblokan orang kulit putih.

Beberapa lama terbang, akhirnya aku terhempas pada rerumputan di serambi malam. Ternyata bumi yang kukunjungi saat ini adalah bagian tenggara, dan tepat waktu malam untuk wilayahnya. Aku tidak menghapal nama negaranya, yang kuketahui, 200 meter di depanku, terlihat sinar-binar cahaya lampu berwarna terang. Suasana yang mengasyikan dengan suara musik di dalam sebuah kedai.

Aku meniti langkahku menuju kedai tersebut. Semakin dekat, terdengar suara musik bergenre rock and roll manjakan telinga. Aku mulai membuka pintu kedai tersebut dan masuk menikmati hangatnya suasana bumi. Tampak tidak ada satupun mahluk bumi ini yang mengetahui siapa sebenarnya aku.

Di depan, kulihat pria dan wanita berdansa ketika musik berganti menjadi slow. Aku memilih tempat duduk di bagian belakang agar penyamaranku tidak terlihat. Kunikmati malam dengan kehangatan bumi yang sangat eksotis.

Detik demi detik waktu bumi semakin memanjakan hati. Kejenuhan akan sepinya surga terobati. Namun tiba-tiba, seorang gadis berusia kisaran 20an tahun mendekatiku. Mengisi kursi kosong pada mejaku, tepat di sampingku.

“Dari tadi aku perhatikan, kok mas sendiri aja, nunggu siapa?”  ujarnya.

Busana gadis ini sama seperti Rhea, hanya saja ukuran dadanya lebih besar. Namun keanehan terdapat pada bagian paha kanannya. Seperti lukisan dalam Museum of Fine Art di Boston. “Ini apa??” tanyaku.

“Ya jelas tattoo lah, mas ini gimana sih” celetuknya.

Walau aku sama sekali tidak mengerti, tapi aku mengiyakannya saja. Dan akhirnya, gadis muda itu menemani aku bicara. Suasana menjadi tambah hangat ketika sebotol anggur tersaji untuk kami nikmati. Sungguh bumi yang indah, lantunan musik berganti sepanjang malam. Kami berdansa, berjoget, tertawa di tengah keramaian kedai ini. Menikmati tuangan bir hitam yang dicampur ginseng dan bir putih oleh bar tender dengan gaya akrobatiknya.

Hingga waktu tepat pukul empat pagi, pesta akhirnya usai. Karena kelelahan semalam suntuk terhibur oleh performa bumi. Aku dan gadis tanpa nama itu melepas lelah di kamar kos Si Gadis, yang jaraknya cuma 200 meter dari kedai.

Di kamar kos, kami bicara panjang. Pertanyaan Si Gadis selalu sulit terjawab. Pertanyaan itu patutnya dijawab oleh manusia, bukan malaikat seperti aku. Namun secara spontanitas, Si Gadis menjamak bibirku dengan bibirnya. Dan mempermainkan bibirku dengan gigi mungilnya. Entah mengapa tiba-tiba suatu energi mengalir dengan derasnya di tubuhku. Ini sepertinya lebih nikmat dari pesta di kedai tadi. Bibirku dilumat habis olehnya. Entah mengapa organ tubuh lainnya ikut bermain. Sangat aneh, bahkan aku dan Rhea sama sekali tidak pernah seperti ini. Tapi mengapa ada sesuatu energi muncul dalam tubuhku. Aku menghabiskan hari di atas tubuh Si Gadis.

***

Keesokan hari, aku terbangun setelah mendengar telepati dari Rhea, agar secepatnya kembali ke surga. Padahal tugas sama sekali belum kulaksanakan. Aku bergegas memakai pakaianku, dan meninggalkan gadis misterius itu yang masih tertidur pulas. Aku kembali ke surga.

Sesampai di surga, aku melihat Rhea berdiri menantiku dengan cemas. Aku menghampirinya, dan dengan spontan melumat bibirnya. Namun sama sekali tidak memiliki rasa seperti gadis di bumi tadi. Entah mengapa energi pada tubuhku tidak mengalir.

Rhea keheranan melihat tingkahku, “Ini apaan?” tanyanya.

“Ow.. Ini gaya menghormati tamu yang datang, seperti di bumi” jawabku.

Ia pun memberitahuku bahwa Tuhan telah marah besar melihat tingkahku di bumi. Aku pun bertanya pada Rhea “Loh… Dari mana Tuhan tahu tentang tingkahku di bumi?”

“Kamu aneh! Dia kan Tuhan, serba tahu!!” jawabnya.

“Lantas mengapa Dia mengutusku ke bumi untuk melihat manusia, Dia kan dapat melihat bumi tanpa mengutus malaikat” tanyaku lagi.

“Aku tidak tahu!!” jawab Rhea.

Aku sangat khawatir untuk menemui Tuhan. Aku sudah bayangkan, bagaimana murka Tuhan ketika mengetahui aku tidak menunaikan tugas yang diberikan. Aku memaksa Rhea untuk kabur ke bumi. Dengan segala cara aku merayu. Aku mengatakan soal energi pada tubuh ketika bibirnya menempel pada bibirku.

Rhea tetap tak bergeming. Akhirnya aku memutuskan untuk kabur ke bumi seorang diri. Namun sebelum keluar dari pintu surga, Rhea memanggilku. “Apa kau akan meninggalkan aku di sini, seorang diri?!”

“Kalau begitu ikutlah denganku!” jawabku.

Akhirnya Rhea menuruti perkataanku. Kami kabur ke bumi. Lari dari surga, karena ketakutan akan murka Tuhan padaku. Lagi-lagi aku tidak menjalankan tugas yang diberikan.

Akhirnya kami sampai ke bumi. Aku membuktikan soal energi tubuh kepada Rhea. Ia sangat percaya ketika mengalaminya sendiri, dan bahkan kami kecanduan untuk melakukan itu. Energi tersebut mengalir dengan nikmatnya. Namun anehnya, dua bulan kemudian, perut Rhea membesar. Oh Tuhan, ini jelas hukuman karena melarikan diri dari surga.

***Selesai***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s