Perppu Kebiri Salah Kebiri

pisang
Ilustrasi: health.liputan6.com

Presiden Jokowi telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) terkait dengan kebiri. Maraknya kasus pemerkosaan dianggap sebagai suatu keadaan yang genting untuk menerbitkannya suatu perundang-undangan yang kekuatannya sama dengan undang-undang.

Di sini tidak akan kita mempersoalkan pasal demi pasal yang tertuang dalam Perppu tersebut. Namun kita akan mengkaji kembali keefektifan regulasi yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowi. Apakah tepat untuk memberikan efek jera, sekaligus meminimalisir kasus pemerkosaan, atau hanya ajang politik pencitraan semata.

Bicara tentang kebiri, tentu korbannya adalah penis. Mengapa penis disebutkan sebagai korban? karena hasrat seksual (libido) datangnya dari pikiran manusia, bukan datang dari penis. Dalam otak manusia terdapat banyak struktur yang terdiri atas hipokampus, amigdala, nucleus thalamic anterior, septum, korteks limbic, dan forniks. Struktur inilah inilah yang berperan di saat manusia merasakan keinginan untuk berhubungan seksual.

Pendapat dr. Boyke, kebiri atau kastrasi tidaklah efektif. Alasannya pelaku kejahatan berpotensi melakukan aksi kejahatan selama kondisi mentalnya tidak diobati.

“Yang sakit itu kan jiwanya. Kastrasi atau kebiri tidak akan menyelesaikan jiwanya. Makanya saya kurang setuju dengan diberlakukannya itu,” kata Boyke.

Kebiri tentu saja tidak akan merubah apa-apa, karena yang sakit adalah jiwanya, bukan fisiknya. Jika tidak percaya bahwa hasrat seksual bersumber dari pikiran bukan penis, silahkan dicoba dengan melakukan masturbasi tanpa berimajinasi. Masturbasi tanpa berimajinasi tidak akan menyebabkan rangsangan seksual, bahkan mungkin tidak akan menyebabkan ereksi. Karena sumber rangsangan adalah pikiran, sehingga masturbasi dengan imajinasi yang akan dapat menyebabkan orgasme, karena kuncinya adalah imajinasi tadi.

Dalam buku ‘Kriminologi’, Dr. Hendrojono mengutip libido sexuil pandangan Sigmund Freud. Bahwa sebenarnya dorongan sexuil itu telah dimiliki manusia sejak dilahirkan, kemudian dipupuk oleh lingkungan dan pengalaman sampai pada saat pubertas. Sebagai contohnya, ketika bayi dilahirkan, maka libido atau hasrat seksualnya terpusat pada mulut, dengan tujuan perawatan. Perkembangan berikutnya, tidak saja meminta perawatan, tetapi berkembang mulai menggigit dengan kehendak untuk memiliki yang tentunya terbatas menjadi milik mulutnya. Masa ini disebut dengan oral libido. Taraf berikutnya libido akan berpusat pada alat kelaminnya dengan kebutuhan-kebutuhan memperoleh kepuasan.

Seandainya tingkatan taraf libido tidak berubah ke alat kelamin, mungkin yang akan diberi hukum kebiri adalah mulutnya. Logika sangat keliru untuk melakukan kebiri atau kastrasi. Jiwa yang sakit seharusnya diberikan rehabilitasi, bukan kebiri.

Ketika penis telah dikebiri, atau kastrasi klitoris pada wanita sekalipun, sehingga menyebabkannya  tidak berfungsi normal, tidak akan menyebabkan hasrat seksual itu hilang. Pelampiasannya bisa saja menggunakan tangan, mulut, atau organ tubuh lainnya. Bahkan orgasme sekalipun bisa saja terjadi tanpa penetrasi.

Pelaku pemerkosaan yang telah dihukum kebiri, jika keluar dari penjara nantinya bisa saja memiliki efek dendam, dan bukan lagi menggunakan penis sebagai pelampiasan hasrat seksual, tetapi tangan atau organ tubuh lain, yang tentunya ukurannya lebih berbeda, sangat mengerikan.

Perppu yang dikeluarkan presiden sangatlah subjektif, karena syarat terbitnya Perppu itu sendiri adalah kegentingan yang memaksa. Namun bukan berarti harus dijadikan politik pencitraan semata, untuk meyakini rakyat bahwa negara sangat mengutuk tindakan pemerkosaan, bahwa negara sama rasa dengan warga negaranya terkait kasus pemerkosaan yang begitu kejamnya. Dengarkanlah pendapat ahli, hargailah pendapat mereka yang memiliki pengetahuan sesuai dengan realita yang kita hadapi saat ini.

Kasus pemerkosaan yang kemudian disertai pembunuhan, hakikatnya adalah untuk menguburkan jejak kasus pemerkosaan itu sendiri. Kita menilai pemerkosan sebagai suatu kejahatan yang sangat kejam pada akhir-akhir ini, diakibatkan peristiwa lanjutan setelah pemerkosaan, yakni dibunuh dengan keji, seperti misalnya dimasukan cangkul dalam kemaluan korban, dipukul dengan kayu, bahkan dibuang ke jurang. Yang kita lihat saat ini adalah efek lanjutan setelah pemerkosaan dilakukan.

Sama dengan kasus Fetishisme. Fetishisme adalah dorongan seksual yang ditujukan kepada benda-benda milik lawan jenisnya. Misalnya seorang laki-laki tertarik pada celana dalam wanita, rambut, sepatu, dan benda lainnya milik wanita. Kasus di Chicago pada 1957, di mana seorang mahasiswa melakukan 3 kali pembunuhan dan 5 kali pencurian besar pakaian wanita, biasanya ia merasakan kepuasan seksual dengan mengenakan pakaian wanita. Yang mendorong melakukan pembunuhan untuk menghindari penyelidikan terhadap barang yang dicurinya.

Penis bukanlah suatu sebab utama dari kasus pemerkosaan. Penis adalah alat yang diperintahkan otak sesuai dengan sistem saraf dalam tubuh. Sehingga mengebirinya tidak akan memberhentikan hasrat seksual dari pikiran manusia. Sama dengan laki-laki yang tidak hanya menggunakan vagina sebagai tempat memuaskan seksual, tetapi oragan lain dari tubuh wanita, bahkan di antara kedua payudara sekalipun dijadikan tempat penetrasi. Pemuasan seksual tidak hanya menggunakan penis. Bahaya ketika pelaku yang dikebiri memiliki orientasi seksual yang berubah pasca hukuman tersebut, dengan memuaskan hasrat seksualnya dengan cara yang lebih sadis.

Sehingga yang tepat adalah hukuman kebiri untuk pikiran, dengan cara melakukan rehabilitasi terhadap pelaku untuk mengebiri pikiran-pikiran jahat dalam dirinya. Sehingga pikirannya bersih selepas dari balik jeruji besi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s