Turn Back Crime: Jangankan Dilarang, Diwajibkan Juga Ogah!

Kapolri, Jenderal Badrodin Haiti mengeluarkan surat larangan terhadap masyarakat umum untuk menggunakan kaos bertulis ‘Turn Back Crime’. Alasannya karena maraknya pelaku kejahatan yang beroperasi menggunakan baju tersebut. Ancaman hukuman bagi masyarakat yang kedapatan menggunakan kaos tersebut tidak main-main, 3 bulan pidana kurungan/penjara (?)

Seorang teman aktivis mahasiswa, yang semangat juangnya sedang menggebu-gebu, melalui media sosial mengirimkan pesan padaku, “Kapolri telah mengeluarkan larangan untuk tidak gunakan kaos bertulis ‘Turn Back Crime’, kita harus menyuarakannya!!”

Entah mengapa, spontanitas itu mendatangkan gelak tawa bagiku. Bagaimana tidak, jangankan dilarang, diwajibkan memakai kaos itu aku ogah. Mungkin saya dapat dikatakan orang yang ketinggalan zaman, tidak mengikuti lifestyle dengan fashion yang berkembang. Tapi sebenarnya jika berbicara trend kekinian, pantang bagi saya memilikinya jika tidak memiliki filosofis yang dalam.

Filosofis pada kaos bertulis ‘Turn Back Crime’ memang menarik. Menurut sumber, slogan pada kaos tersebut merupakan program Interpol pada tahun 2014. Jaringan Kepolisian negara-negara sedunia dalam mengkampanyekan kesadaran ‘masyarakat’ untuk sama-sama melawan kejahatan terorganisir di sekeliling mereka. Namun filosofis itu seketika menjadi luntur ketika aparat dengan menggunakan kaos bertulis ‘Turn Back Crime’ dengan semena-mena memukul para buruh yang sedang menuntut hak-haknya dari ketertindasan sistem ini. Hingga saat ini 2 Pengacara LBH dan 26 Aktivis Buruh sedang diadili hanya karena menuntut hak-hak mereka.

Ini merupakan suatu ironi di bawah bendera demokrasi. Ketimpangan struktural yang melahirkan ketidakadilan struktural. Sebagai suatu sindiran terhadap ketidakadilan struktural ini maka terbitlah baju bertulis ‘Bring Back Justice’ untuk menertawakan ketidakadilan tersebut. Penulis sendiri telah memiliki 2 baju ‘Bring Back Justice’ sebagai perlawanan terhadap kekerasan-kekerasan yang dilakukan lembaga yang seharusnya mengayomi. Kaos ini juga tidak hanya memiliki filosofi yang bermakna, namun sebagai donasi bagi bantuan hukum struktural untuk kaum tertindas. Untuk itu, penulis lebih bangga menggunakan kaos yang filosofisnya sejalan dengan realitanya.

Cuma penulis memberikan sedikit kritikan untuk Pak Kapolri yang tercinta. Kapolri yang tercinta seharusnya lebih mengerti fashion. Sifat dari fashion itu dinamis. Bapak tidak perlu capek-capek membuat aturan, karena sebulan lagi fashion itu akan berganti. Justru dengan adanya larangan, memunculkan pemuda masa kini beradrenalin untuk terus menggunakannya. Apalagi sebatas baju, yang memiliki akselerasi dinamis untuk tergantikan dengan trend lainnya. Semoga bapak dapat mengerti fashion.

Kemudian, korelasi antara tindak pidana dengan baju, saya rasa tidak akan memperburuk citra polisi di mata masyarakat. Justru karena masyarakat lebih mengetahui trend, maka tentu tidak akan berpikir subjektif seperti itu, siapa dalang dari tindak pidana. Saya rasa justru ini kekhawatiran dari bapak sendiri, di mana ketika ada tindak pidana dengan pelaku menggunakan logo kaos ‘Turn Back Crime’ maka akan dijustifikasi pelakunya adalah polisi.

Dari pada sibuk untuk menyelamatkan citra polisi di mata masyarakat, sebaiknya mulailah dari memperbaiki kinerja internal sendiri. Justru dengan adanya trend baju ‘Turn Back Crime’ tersebut membuktikan masyarakat semakin menaruh hati pada polisi pasca bom Thamrin, bukan pasca pemukulan buruh. Tapi untuk saya, kaos itu tidak akan saya pakai, ada atau tidak adanya aturan. Selamat berpikir rasional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s