Cerpen Tanpa Huruf ‘D’

Rinai hujan basahi langit sore, lembayung bergeser menyambut langit hitam, namun tatapan mata lelaki itu terus menatap lautan lepas. Haru biru air wajahnya seperti gambarkan akhir sebuah petualangan cinta, yang telah hancur tertiup angin lautan.

Tangannya erat menggenggam secarik kertas. Seperti memori perpisahan yang terangkai, atau seperti penghianatan oleh hati yang tertinggal. Lelaki itu terus menatap kejauhan. Rasa kecewa, marah, terhianati, bergabung lalu tersusun melalui alunan haru mengubah waktu.

Serasa baru setahun yang lalu bersama sang kekasih lewati rintangan tentang cinta kasih yang terbentur strata sosial. Pulau Lombok memang menyimpan strata lewat goresan sejarah. Mencintai seorang baiq merupakan suatu keniscayaan jika bergelar lalu. Namun sayang sungguh sayang, strata sosial berpihak akan perpisahan. Hanya karena lelaki malang terlahir tanpa gelar kehormatan.

Lelaki itu bertanya lewat angin senja, apakah kebahagiaan hanya bergelar bangsawan? apakah menjamin bangsawan mampu bahagiakan jiwa yang terpenjara? bukankah banyak juga kekayaan membuat suatu rangkaian cinta retak berkeping-keping yang tak akan mampu terekat?.

Buih ombak lautan hampiri kaki lelaki yang kesepian berteman air mata. Basahi kaki yang kokoh menatap cintanya yang hilang. Sungguh tak akan mampu terekat lagi. Angin berhembus seraya permainkan rambut lusuh lelaki itu. Ia tak pernah menyangka akan berakhir lewat air mata.

Tatapan mata lelaki itu beralih melihat air lautan yang semakin surut. Terlihat genangan air yang tertinggal oleh surutnya lautan. Genangan sebesar biji kelapa itu ternyata berisikan seekor ikan kecil yang terjebak surutnya lautan. Pikirannya pun terbayang akan nasip cinta yang terhalang strata sosialnya. Seakan seperti ikan kecil itu, tak akan bebas berenang menelusuri mimpi, terjebak antara pasir lautan. Mungkin itu gambaran suatu strata sosial, membuat mereka yang merajut cinta terjebak tak bebas karena ancaman strata sosial. oh Tuhan, kini hilang mimpi suci itu.

Senja semakin membawa malam. Bisikan cinta yang hilang lewat syair angin. Lelaki itu temani malam, larut haru bersama kenangan. Secarik kertas kata perpisahan sang kekasih masih tergenggam. Ia paham bahwa kekasihnya hanya terjebak strata. Bukankah Kartini habis gelap tak menemui terang? terjebak juga oleh strata! Sampai kapan tangisan terus berirama lewat perpisahan yang terbentuk oleh strata sosial. Sungguh malang nasip ini, Apakah Tuhan pernah membatasi cinta seseorang?, sehingga manusia begitu tega memisahkannya.

Kau tahu bahwa Cleopatra berkorban untuk cinta. Mengapa pengorbanan itu kini rapuh oleh perbuatan manusia yang menciptakan norma tanpa melihat perasaan?. Bagaimana harus bertahan lewat jalinan kasih sayang ini?. Apakah akan terus bertahan hingga jiwa-jiwa itu berontak melawannya? terlalu sempit pola pikir itu.

*****

Lelaki malang itu langkahkan kaki beranjak pergi. Tinggalkan pantai sepi itu, tempat berseminya kisah cinta mereka tiga tahun yang lalu. Pantai sepi sebagai saksi anugrah Tuhan yang menciptakan cinta, namun kini terpisahkan oleh suatu strata agung.

Memang betul cinta sejati itu hanyalah mitos, karena manusia tak akan mampu bertahan hanya satu cinta. Namun apakah harus bayarkan perpisahan untuk menunjukan bahwa cinta sejati itu tak bereksistensi?.

Menelusuri lorong malam, lelaki itu berjibaku melapas haru. Kekasihnya kini berpeluk senja. Tak akan menatap pagi bersamanya lagi. Hanyalah khayalan sebelum terlelap mimpi. Kekasihnya kini hanyalah khayalan. Sebuah ilusi yang terputus oleh realita zaman, bahwa ternyata cinta bukan lagi soal memiliki, ternyata cinta juga bermekar melalui mimpi, walau tak akan lagi bertutur sapa.

Tanggal 10, bulan 10 tahun 2010, saksi perpisahan cinta, yang hanya terucap lewat goresan tinta. Tanpa wajah, tanpa tutur kata perpisahan. Begitu kejamkah manusia sehingga perpisahan pun terkekang. Hanya lewat bait puisi perpisahan gambarkan bahwa cinta tak selamanya memiliki. Sial..!! terlalu kejam akhiri masalalu lewat sebuah puisi haru.

Lelaki itu terjebak melalui lorong khayalan. Imajinasinya melayang menembus batas waktu. Berharap tak lahir sebagai seorang tanpa gelar kemuliaan, agar mampu merajut mimpi bersama Sang Kekasih. Namun khayalan hanyalah khayalan, setinggi apapun imajinasimu tak akan merubah kenyataan. Lelaki itu kini terpenjara oleh khayalan. Tak akan mampu membayar mimpi lewat janji. Tak akan pernah bertemu sang kekasih. Cintanya hanya kekal melalui imajinasi, melalui khayalan bahwa cinta itu bisa terekat kembali. Selamat jalan mimpi.

*****

(tiga tahun setelahnya)

Lelaki itu kini memperoleh sentuhan tangan Tuhan. Sehingga mampu bangkit melepas masalalu itu. Merasakan kesejukan hatinya kembali, walaupun masih berisi hati yang hampa, tanpa terisi sentuhan kekasih barunya.

Kakinya kembali melangkah, menelusuri jalanan pinggir trotoar kota Mataram, melihat lautan keramaian kota. Tanpa terasa kakinya terhenti samping trotoar jalanan. Menatap wanita yang begitu ia kenal. Tuhan ternyata menyimpan rangkaian cerita untuk lelaki itu lakoni. Wanita mantan kekasihnya itu tersentak kaget melihat cinta lamanya. Namun sayang, buah hati hiasi kebersamaan wanita itu. Lelaki malang hanya mampu tersenyum, sembari melihat wanita itu berjalan ke arahnya. Hingga jelas 30 cm jarak antara wajah mereka.

“Maaf… Hanya melalui puisi lewat secarik kertas aku ucapkan salam perpisahan, karena norma buatan manusia membatasi untuk memelukmu sekejap”

Lelaki itu hanya memberi tatapan haru. Tak ingin ingatkan mantan kekasihnya kenangan yang terangkai lama. Bibirnya bergetar, tak mampu berbicara apa-apa. Namun Ia tak ingin terlihat haru menyesali rangkaian cerita Tuhan.

“Aku memafkanmu jauh sebelum kau ucapkan maaf ini…”

Ucapan itu membuat hancurnya hati wanita itu. Kebesaran hati mantan kekasihnya justru membuatnya semakin terluka, menyesali jalan berakhirnya cinta mereka. Mata wanita itu berkaca-kaca. Ingin rasanya memeluk mantan kekasihnya itu. Cinta korban strata sosial memang berujung haru yang nyaris kekal.

“Aku namakan anakku ini menggunakan namamu, semoga kau menemukan kekasih terbaikmu, juga semoga anak ini tak seperti kisah cinta kita”

Lelaki malang itu berusaha mengunci air matanya yang akan terjatuh. Ia merasa tak ingin berbicara panjang. Itu hanya akan membuka ruang luka lamanya.

“Terimakasih, perlu kau ketahui bahwa kita tak pernah berpisah. Karena setiap malam sebelum aku terlelap, kau selalu bergentayangan melalui imajinasiku. Kau tak pernah pergi…”

“Begitu juga aku… Tak pernah berharap kau pergi jauh tinggalkan imajinasiku. Kau juga hantui mimpiku, sehingga terangkai begitu baik melalui malam sepiku”

Lelaki itu hanya menebarkan senyumnya. Senyuman yang memiliki khas ketulusan seorang pria. Ketegarannya tak mampu terobohkan. Hingga hanya salam perpisahan secara langsung yang terucap untuk memenuhi perpisahan yang terganjal masalalu itu.

“Aku menemukanmu, hanya untuk kehilanganmu lagi”

Lelaki itu meninggalkan wanita itu samping terotoar kota. Berlalu tenggelam oleh keramaian kota. Wanita itu hanya mampu menatapnya, tanpa terasa air mata basahi pipi merah jambu itu. Inilah suatu coretan kisah manusia, yang terpisah oleh strata sosial ciptaan manusia. Semoga tak akan lagi berjatuh korban akibat terpisahkan oleh strata. Karena Tuhan tak akan pernah membatasi cinta, selagi berjalan sesuai normaNya.

*** Selesai ***

Tambahan:

Baiq adalah gelar bangsawan untuk perempuan suku Sasak di Lombok,

Lalu adalah gelar bangsawan untuk laki-laki suku Sasak di Lombok.

Dahulu tradisi suku Sasak melarang wanita/pria menikahi di luar dari golongan bangsawan disana, sehingga banyak yang terganjal kisah pilu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s